Sunday, April 6, 2008

Diancam Bunuh Setelah Bersyahadat

muslim@

http://musliminsuff er.wordpress. com/


bismi-lLahi- rRahmani- rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful



=== News Update ===


Diancam Bunuh Setelah Bersyahadat

Senin, 31 Maret 2008

Perjuangannya "memeluk" Islam dilakukan dengan penuh resiko, ia
bahkan diancam bunuh. Dulu ia ingin 'mengkristen- kan' orang. Kini malah
mengislamkan orang

[Image] PENGANTAR. Semenjak memeluk Islam, ibunya sudah tak mengakui
lagi ia sebagai anak. Ayahnya bahkan hendak menembaknya pula. Sang kakak
menganggap ia sudah gila. Lalu suami menceraikannya. Oleh pengadilan dia
divonis tak punya hak mengasuh kedua anaknya, kecuali meninggalkan
Islam. Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah
dikeluarkan dari tempat kerjanya. Begitulah ujian demi ujian datang
menerpa Aminah Assilmi setelah memeluk Islam. Namun perempuan Amerika
ini tetap tegar. Alhasil, dengan kuasa Allah, beberapa tahun kemudian
neneknya yang telah berusia 100 tahun masuk Islam. Lalu bapaknya,
diikuti ibu, kakak, anak lelakinya yang telah berusia 21 pun kemudian
memeluk Islam. Bahkan, enam belas tahun setelah bercerai, mantan
suaminya juga masuk Islam. Kini ia banyak diundang memberikan ceramah di
berbagai tempat di Amerika. Satu kalimatnya yang terkenal: "Bagi
saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu." Berikut kisah
lengkapnya seperti dituangkan dalam www.islamfortoday. com.
< http://www.islamfor today.com/>

Aminah Assilmi dulunya seorang juru baptis, penganut feminis yang
radikal dan juga seorang jurnalis radio. Tapi kini, selepas memeluk
Islam, dia bagaikan seorang duta besar bagi agama Islam. Sebagai
Direktur International Union of Muslim Women atau Persatuan Wanita
Muslim Internasional dia benar-benar menyuarakan kebenaran Islam. Aminah
kerap mengadakan perjalanan, berceramah di kampus-kampus, menyeru
pentingnya kepedulian terhadap masyarakat banyak serta berbagi pemahaman
atas keyakinan yang dianutnya kini.

Aminah sendiri, jauh sebelum mengenal Islam, awalnya berada di garda
terdepan kelompok pembenci Islam. Dalam buku yang dikarangnya
"Choosing Islam", Aminah menceritakan perjumpaannya dengan
Islam.

Berawal dari kesalahan komputer

Aminah dikenal sebagai gadis yang cerdas hingga memperoleh beasiswa
selama kuliah. Disamping itu ia juga mengembangkan bisnis sendiri,
berkompetisi secara professional hingga akhirnya memperoleh penghargaan
(awards). Semua itu berlangsung semasa masih kuliah di perguruan tinggi.
Ada kejadian menarik tatkala ia memasukkan data registrasi mata kuliah
ke komputer di kampusnya. Berawal dari sinilah ia mengenal Islam hingga
di kemudian hari kehidupannya berubah secara total.

"Kejadian itu pada tahun 1975 ketika pertama kali pendaftaran mata
kuliah menggunakan sistem komputer. Waktu itu saya melakukan registrasi
sebuah mata kuliah. Setelah mendaftar saya pun berangkat ke Oklahoma
untuk urusan bisnis," kisahnya mengenang. Urusan bisnisnya sedikit
lama, membuatnya tertunda kembali ke kampus. Dan baru muncul di kampus
dua minggu setelah kuliah dimulai. Bagi dia ketinggalan pelajaran dan
tugas-tugas mata kuliah tidak masalah. Namun yang membuatnya sangat
terkejut adalah ketika diketahui komputer salah dalam melakukan
registrasi. Di komputer namanya tertera sebagai peserta kelas Theatre,
sebuah kelas dimana para mahasiswa musti unjuk kebolehan di depan
peserta lainnya.

"Saya ini gadis pendiam. Bagi saya berdiri di depan kelas adalah hal
yang sangat menakutkan. Tentu saja membatalkan mata kuliah tidak mungkin
lagi. Sudah sangat terlambat. Tidak hadir sama sekali selama kuliah,
juga bukan pilihan yang tepat. Sebabnya saya menerima beasiswa. Bila
nilai saya jatuh, beasiswa bisa dicabut," tambahnya.

Suami Aminah menyarankan agar ia menemui dosennya guna mencari solusi
alternatif lain. Oleh sang dosen ia dianjurkan untuk masuk ke kelas
lain. Namun alangkah terkejutnya Aminah tatkala masuk ke kelas
alternatif itu.

"Saya tak menduga di kelas itu banyak sekali wanita Arab berjilbab.
Waktu itu saya menyebut mereka dengan "para penunggang unta".
Kontan gairah saya hilang," kenangnya.

Aminah tidak jadi ikut kelas tersebut dan pulang ke rumah."Saya
tidak mau berada di tengah-tengah orang-orang Arab. Saya tidak mau duduk
bareng dengan orang-orang kafir kotor itu!," tulis Aminah dalam
bukunya. Suaminya, seperti biasa, tetap tenang menghadapinya.

Dengan kalem sang suami menyebut bahwa Tuhan punya maksud tertentu atas
segala apa yang terjadi. Ia lalu meminta Aminah untuk berpikir
masak-masak sebelum memutuskan berhenti kuliah. Konon lagi pemberi
beasiswa telah mengeluarkan dana untuk studinya itu. Selama dua hari
Aminah mendekam di kamarnya guna mengambil keputusan. Akhirnya dia
memutuskan kembali ke kampus. Kala itu, menurut Aminah, dia seperti
merasakan seolah-olah Tuhan memberinya tugas untuk mengkristenkan
mahasiswi Arab itu. Ia rasakan seperti ada sebuah misi yang musti
dituntaskan segera.

Misi Kristenisasi

Kala kembali ke kampus, Aminah pun mulai menjalankan misi Kristenisasi
kepada mahasiswi Arab itu.

"Saya terangkan tentang neraka. Bagaimana mereka akan dibakar dan
disiksa jika tak ikut ajaran Kristen. Lalu saya terangkan Yesus cinta
mereka dan Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa pengikutnya. Jadi
kita musti ikuti dia." terang Aminah yang mengaku heran dengan
kesopanan mahasiswi Arab tersebut. Mereka tidak membantah sedikitpun
dengan apa yang diterangkannya.

"Anak-anak Arab itu kok belum tertarik juga dengan Kristen. Saya
putuskan untuk mencoba cara lain. Yakni saya coba pelajari kitab mereka
untuk membuktikan bahwa Islam agama salah dan Muhammad bukan Nabi,"
tukasnya lagi.

Atas permintaan Aminah, seorang mahasiswi Arab memberinya sebuah mushaf
Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam. Aminah mulai mempelajari
Al-Quran berikut dengan bantuan 15 buah buku tentang Islam secara
intensif. Al-Quran dibaca berulang-ulang, dikajinya berdasarkan
referensi-referensi yang ada, lalu dibacanya lagi. Begitu seterusnya.
Selama observasi dia selalu mencatat hal-hal yang tak disetujuinya guna
membuktikan pendapatnya Islam agama salah. Kajian berjalan selama hampir
satu setengah tahun.

Cari kelemahan Islam

Begitulah, setelah berjalan hampir dua tahun, alih-alih berupaya
mengganti paham mahasiswi Islam tersebut dengan ajaran Kristen, malah
Aminah yang akhirnya belajar Al-Quran. Awalnya dia mempelajari Quran
untuk mencari kesalahan-kesalahan Islam, untuk membuktikan Nabi Muhammad
bukan Nabi. Akan tetapi semakin dibaca, semakin tertarik ia dengan
Islam.

Tanpa disadari, perilakunya mulai sedikit berubah. Rupanya perubahan itu
menarik perhatian suaminya. "Sungguh, tanpa saya sadari ada
perubahan kecil dalam keseharian saya. Tapi itu sudah cukup mengganggu
pikiran suami. Biasanya saban Jumat dan Sabtu kami sering pergi ke bar
atau menghadiri pesta. Tapi saya tidak begitu suka lagi. Bahkan berhenti
makan babi dan minum-minuman keras," kisahnya.

Lama- kelamaan suaminya mulai menaruh curiga dengan perubahan itu.
Suaminya menduga Aminah ada hubungan gelap dengan lelaki lain.
Puncaknya, mereka pisah ranjang, dan bahkan kemudian pisah apartemen.
Namun Aminah masih terus mengkaji Al-Quran.

Secara khusus dia mengaku sangat tertarik dengan apa yang dikatakan
Al-Quran tentang laki-laki dan perempuan. Wanita Islam, sebelum dia
mempelajari Al-Quran, dia pikir berada dalam penindasan suaminya.
"Waktu itu dalam sangkaan saya suamilah yang memaksa istri, misal
untuk memakai jilbab," ujar Aminah.

Melalui kajian intensif, dia dapati bahwa wanita Islam punya kesamaan
hak dalam pekerjaan, pendidikan tanpa memperhatikan gender mereka. Yang
menarik baginya, pada saat seorang wanita Islam menikah, maka dia tidak
harus mengganti nama belakang (nama keluarga-red) menjadi nama keluarga
suami, tapi tetap menjaga nama ayahnya. Dan banyak lagi perkara-perkara
lainnya. Dari situ Aminah mengambil kesimpulan bahwa Islam atau dengan
kata lain Nabi Muhammad telah mengangkat harkat dan martabat kaum
wanita.

Didatangi lelaki berjubah

Akhirnya, satu malam seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata seorang
lelaki berjubah dan mengaku bernama Abdul Aziz Al-Shekh. Ia ditemani
tiga orang temannya dengan pakaian yang sama. Aminah sangat terkejut
dengan kedatangan pria tak diundang itu. Apalagi tatkala pria berjubah
tersebut mengatakan bahwa hanya masalah waktu saja bagi Aminah untuk
menjadi seorang muslim.

"Dia berujar saya sudah siap jadi seorang Islam. Saya kontan
menangkal pernyataannya itu dengan menyebut saya orang Kristen. Selama
ini saya hanya coba mengkaji, bukan mau masuk Islam. Begitu kata saya
malam itu," tukas Aminah mengenang. Begitupun Aminah mempersilahkan
mereka masuk karena ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang
Islam yang masih menyelubungi pikirannya.

Aminah menumpahkan semua pertanyaannya, hasil observasi selama hampir
dua tahun. Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. Tiap pertanyaan
dijawabnya dengan sangat tenang dan teratur. Aminah mengaku sangat puas
dengan jawaban-jawaban yang diberikan. "Akhirnya, keesokan harinya,
dengan disaksikan Abdul-Aziz dan tiga temannya sayapun bersyahadah. Saat
itu 21 Mei 1977," kenangnya.

Dikucilkan Keluarga

Segera setelah Islamnya Aminah, perlahan ujian demi ujian pun datang.
Dia dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Ibunya tak mengakui
lagi ia sebagai anak. Yang lebih parah, sang ayah bahkan hendak
menembaknya pula. Kakak Aminah menganggap ia sudah gila dan perlu
dirawat di rumah sakit jiwa. Belum berhenti disitu, suami pun
menceraikannya. Yang membuat hati Aminah sangat pedih adalah kala
pengadilan memutuskan dia tak punya hak mengasuh kedua anakNYA, kecuali
meninggalkan Islam. "Saya meninggalkan pengadilan dengan hati yang
hancur. Anda bisa bayangkan bagaimana hati seorang ibu dipisahkan dari
anak-anaknya," ujar Aminah sedih.

Belum selesai sampai disitu, setelah mengenakan jilbab ia malah
dikeluarkan dari tempat kerjanya. Namun karena kecintaannya pada Islam,
penderitaan- penderitaan itu tidak membuat imannya runtuh. Aminah
menyitir sebuah ayat suci Al-Quran (Ayat Kursi-red) yang bikin hatinya
tenang:

Tidak ada Tuhan yang patut disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya) ; tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat
memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui
apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak
mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki- Nya.
Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat
memelihara kedua-duanya, dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Q.S.
2;255).

Anggota keluarga masuk Islam

Meskipun keluarga mengucilkannya, Aminah tetap menjaga hubungan dengan
mereka. Misalnya, ia sering berkirim surat dan selalu menulis beberapa
terjemahan ayat Quran dan hadis yang berhubungan dengan masalah sosial
kemanusiaan. Namun Aminah tak menyebut petuah-petuah itu dari Al-Quran.
Rupanya strategi itu lumayan manjur. Lama-kelamaan ada respon positif
dari anggota keluarga. Aminah pun terus berkirim surat plus
kutipan-kutipan berisi ayat Quran dan hadis Nabi.

Begitulah, dengan sabar dan doa, satu demi satu anggota keluarganya
masuk Islam. Pertama, sang nenek yang sudah uzur. "Nenek berusia 100
tahun ketika menerima Islam. Persis setelah itu dia meninggal dunia.
Masya Allah nenek meninggal dengan membawa buku amalan yang penuh
kebajikan ke akhirat," kisah Aminah.

Tak lama, ayah yang dulu hendak membunuhnya juga memeluk Islam. Dua
tahun kemudian, sang ibu diikuti oleh kakak Aminah juga bersyahadah. Dan
yang membuat Aminah sangat gembira, anaknya yang telah beranjak dewasa
(umur 21 tahun) juga mengikuti jejaknya. Yang paling mengharukan, enam
belas tahun selepas Islamnya Aminah, mantan suaminya juga mengucap dua
kalimah syahadah. Mantan pasangan hidupnya itu bahkan meminta maaf atas
segala kekhilafannya.

Aminah sendiri kala itu telah menikah dengan pria lain. Dia sempat
didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit kanker dan divonis tidak bisa
memiliki anak lagi. Namun Allah punya kuasa. Ia tetap bisa mengandung
dan diamanahi seorang anak laki-laki yang diberi nama "Barakah".

"Saya sangat gembira menjadi seorang Muslim. Islam adalah hidupku.
Islam adalah irama hatiku. Islam adalah darah yang mengalir di sekujur
tubuhku. Islam adalah kekuatanku. Islam telah membuat hidupku sangat
menyenangkan. Tanpa Islam aku tak berarti apa-apanya. Andai Allah
memalingkan wajah-Nya dariku, sungguh aku tak bisa bertahan hidup,"
senandung Aminah Assilmi yang telah dua kali berhaji ke Mekkah.

Tak malu tunjukkan identitas Islam

Aminah dalam beraktifitas tak malu-malu menunjukkan keislamannya. Misal,
dia mengenakan busana muslimah secara sempurna. Jilbab menutupi sekujur
kepala dan rambutnya, serta busana panjang menutupi seluruh anggota
tubuhnya. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya bagi warga di Amerika,
dimana wanita umumnya gemar mempertontonkan aurat mereka.

Satu ketika Aminah memberikan kuliah di hadapan mahasiswa yang memenuhi
ruang kuliah di Universitas Tennesse tentang status wanita dalam Islam
berjudul "Wanita Muslim berbicara dari balik hijabnya."

"Wanita muslim tidak dibatasi dalam berkarir oleh agamanya.
Begitupun, bagi saya, profesi terbaik adalah menjadi seorang ibu. Karena
para ibulah yang membentuk generasi masa depan," ujar Aminah
diplomatis. Wanita Islam, lanjutnya, saat ini banyak mendapat
diskriminasi di lapangan hanya karena mereka berjilbab. Ia menekankan,
terutama di negerinya Amerika, muslimah sangat sulit mengaktualisasikan
dirinya. Pernah satu saat ketika Aminah hendak mencairkan cek di sebuah
bank. Satuan pengaman bank serta merta menghardiknya seraya mengarahkan
moncong senapan ke wajahnya. "Itu hanya karena saya berjilbab,"
katanya.

Aminah mengingatkan para pengeritik Islam yang kerap menyebut bahwa
wanita-wanita di negeri-negeri Islam tertindas di bawah kekuasaan
lelaki. Ia menjelaskan bahwa yang menindas mereka bukanlah Islam, tapi
budaya setempat. Dalam Islam wanita begitu dihormati dan tinggi
derajatnya. "Jangan anggap (ajaran Islam) seperti itu. Sangat
bodoh," ujarnya. Ia sangat tidak setuju Islam dijadikan kambing
hitam.

Itulah Aminah Assilmi. Dulunya memojokkan Islam dan bahkan bermaksud
meng-Kristen- kan kawan sekelasnya. Berbagai ujian dan penderitaan yang
datang selepas ia memeluk Islam tak membuatnya bergeming. Allah berikan
ganjaran atas kesabarannya itu dengan mengirimkan hidayah kepada seluruh
anggota keluarganya. Kini ia bersama organisasinya memperjuangkan agar
umat Islam di Amerika mendapatkan libur di kala merayakan lebaran. Salah
satu sukses yang telah mereka rengkuh adalah beredarnya perangko Idul
Fitri, hasil kerjasama dengan kantor pos Amerika. Wallahu `alam
bisshawab. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatul lah.com
<http://hidayatullah .com/> ]

[Cetak halaman ini]
< http://hidayatullah .com/index2. php?option= com_content&task=view&id=6606\
&pop=1&page=0&Itemid=1
>
[Kirim halaman ini melalui E-mail]
< http://hidayatullah .com/index2. php?option= com_content&task=emailform&id\
=6606&itemid=1
>

===



-muslim voice-
____________ _________ _________ ________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW
__._,_._

*****.*****

Daripada Abu Umarah iaitu al-Bara' bin 'Azib radhiallahu anhuma, katanya: "Kita semua diperintah oleh Rasulullah s.a.w. untuk melakukan tujuh perkara, iaitu meninjau orang sakit, mengikuti janazah, menentasymitkan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, meratakan salam dan melaksanakan sumpah."

(Muttafaq 'alaih)

No comments: