Sunday, November 18, 2007

Of A Song, and An Advertising Campaign

The 2 emails below are from different egroups. I am not a good at political criticism, but my stand is written towards the end.


On 13/11/2007, han_jenar wrote:

Malaysia Akhirnya Akui Rasa Sayange Milik Indonesia
Selasa, 13 November 2007, 08:38:29 WIB

Jakarta, myRMnews. Pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, Malaysia mengakui lagu Rasa Sayange sebagai lagu asli Indonesia.

Ketua Umum DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Dharma Oratmangun mengatakan, dalam kunjungan ke Malaysia, lahir kesepahaman antara Jero Wacik dan Rais Yatim. "Persoalan lagu Rasa Sayange selesai. Secara de facto, Malaysia mengakui itu milik Indonesia," kata Dharma kemarin (12/11).

Pernyataan eksplisit Rais Yatim, menurut Dharma, disampaikan saat acara Temu Jembatan Budaya di Kuala Lumpur kemarin. Dharma merupakan salah seorang anggota delegasi kebudayaan Indonesia. "Oleh Pak Menteri (Menbudpar Jero Wacik) disampaikan bahwa sebagai negara bertetangga, semua persoalan agar diselesaikan dalam konteks masing-masing. Adapun lagu Rasa Sayange sudah bisa dipahami sebagai warisan yang dipunyai Indonesia," jelas Dharma.

Lagu tersebut memang hidup di masyarakat secara luas hingga ke Malaysia. Karena itu, rakyat Malaysia juga mengenal dengan baik lagu tersebut. "Jadi, tidak ada masalah lagi," tegasnya.

Jero Wacik saat dihubungi tadi malam membenarkan bahwa masalah lagu Rasa Sayange sudah tuntas. "Sebenarnya, tidak hanya masalah itu yang dibahas. Ada banyak hal," kata Jero. Sayang, pembicaraan tidak berlanjut karena Jero sedang mengikuti jamuan makan malam.

Sebelumnya, kementerian kebudayaan Malaysia mengakui telah lalai menggunakan lagu Indonesia lainnya. Yakni, lagu Tiar Ramon karya musikus Minang, yang digunakan tarian delegasi Malaysia pada Asia Festival 2007 di Osaka.

Indonesia tidak akan memperkarakan lagu dan kesenian yang dipakai Malaysia. Sebab, Indonesia dan Malaysia masih serumpun. Hanya, Indonesia meminta, jika Malaysia menggunakan kesenian Indonesia, harus diumumkan kepada publik bahwa itu berasal dari Indonesia.

Di Malaysia, selain menghadiri Temu Jembatan Budaya, Jero Wacik membuka Indonesia Trend (Trade, Tourism, and Investment) Expo 2007 di Kuala Lumpur. Itu merupakan pameran produk-produk ekspor Indonesia ke Malaysia. jpnn

*****.*.*****
Hentikan iklan promote Singapore

From: "shazirawati shamsuddin"
Date: Sun, 18 Nov 2007 07:52:47 +0800 (CST)
Subject: Balasan: Hentikan iklan promote Singapore

ye la aku pun setuju 100%, apa benda la media prima, pas tu personalitinya pula cari makan dengan melakunkan iklan tersebut, x cukup makan ke staff di media prima tu.....

Leedah Baywaks wrote:

Aku nak minta dihentikan iklan "uniknya singapura" di media2 prima.
Gantikanlah dengan iklan cuti-cuti Malaysia dan LIMA 2007 atau
seumpamanya yg menggalakkan rakyat melawat dalam negeri sendiri. Apatah
lagi kempen VISIT MALAYSIA YEAR 2007 belum pun tamat.
Apa faedahnya kpd rakyat negara ini (yg mungkin akan kehilangan sebuah
pulau lagi) utk menghabiskan wang di sana?. Jgn ingat untung masuk
poket sendiri saja, ingatlah kepentingan negara sama.

*****.*.*****

My Comment:

To many songwriters, the ownership of a song has a significant value especially in terms of monetary rewards. Who's to argue when in any work we do, we expect monetary rewards, no matter how small it may be. But what if there is no monetary rewards at all?

Then, as proven here in the case of the song 'Rasa Saya Sayange', national pride was put at stake. I'm not going to delve on the matter as I have little interest and facts on it. However, the nationalistic pride does tie in with the second email regarding Singapore Tourism Campaign currently aired over TV3.

At a time when Malaysia and Singapore are facing a legal battle over 'Batu Putih' Island, the latter launches a tourism campaign in Malaysia - what gives? Like the reply by a Shazriwati above, are Media Prima - the company operating TV3 - so cash strapped that the matter of money far outweigh the matter of honour?

Some may not think much about the matter, granted. But when you look back at the 'Rasa Sayange' episode and compare it with this: the very song in the campaign is a song written by Allahyarham P Ramlee, a richly talented Malaysian artiste and rightly bestowed as a national treasure and even awarded the title Tan Sri! Where is the sense in allowing Singapore to use his song to lure our (tourism) money away from us? What happened to our Visit Malaysia Year when our ministers complained about the people's right to a peaceful gathering, and not a word on a foreign campaign?

Most of all, where is our pride?

No comments: